Tanam Kol

BERTANAM KOL ALA JEPANG

(oleh :Gun Soetopo)

Yang saya maksud disini adalah Menanam Kol di Jepang. hal ini untuk referensi para pembaca, bahwa dalam bidang hortikuluta khususnya dalam Tehnologi Penanaman, maka di Indonesia masih ketinggalan. Memang tehnologi dalam bidang ini, biasanya mengikuti "kondisi alam" yang turut berperan dalam peningkatan tehnologi itu.
Adanya tantangan alam, maka para petani akan berpikir untuk mengatasinya, supaya apa yang diusahakannya akan mendapat hasil yang terbaik.

Dengan tehnik penanaman yang baik dan benar maka produksi juga akan jauh lebih meningkat dibanding dengan cara "biasa" atau ala kadarnya. Karenaadanya faktor effisiensi dan pemberian kebutuhan tanaman untuk berproduksi secara tepat waktu dan tepat jumlahnya.
Sekedar informasi bahwa jumlah tanaman kol per-hektar di Indonesia, sekitar 25 ribu tanaman, sedang di Jepang bisa effisien sampai 40 ribu tanaman. Tentu dengan kondisi luasan yang sama ini juga akan mempengaruhi tingkat produksi dan pendapatan petani. Dengan cara yang baik dan benar dalam bercocok tanam (apapun jenis tanamannya)

 

( foto-1)

TEMPAT SEMAI (Seedling tray)

Bibit tanaman bisa diumpamakan sebagai bayi. Maka perawatan awal sangat menentukan kualitas dari tanaman tersebut, bahkan produksi atau hasil panenan akan memuaskan atau tidak , ya dari bibit ini.
Tray semai ini biasa dipakai bila cara penanaman kol dengan mekanisasi (traktor tanam). Walaupun begitu, dengan cara tanam yang manualpun akan sangat baik menggunakan tray ini.

Kepraktisannya/kecepatan dalam pengisian tanah untuk semai sangat membantu pekerjaan. Juga dengan tray ini jumlah biji yang disemai akan mudah dihitung, maka perkiraan jumlah tanaman perluasan dan kebutuhan benih akan mendekati kebenaran.

Tray semai ini bisa di dapatkan di toko pertanian yang agak besar. harganya relatip mahal bila di konversikan dengan palstik semai. tapi sebetulnya jatuh biaya akhirnya akan lebih murah dengan tray semai. Ini berkaitan dengan ongkos tenaga kerja, harga benih dan germinasi tanaman.

Ukuran (PxL) tray ini ini sama yaitu sekitar (28cmx56cm) , cuma jumlah lubang dari tray ini bermacam-macam, dimana disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan disemai.
Pada tanaman Cabe, Tomat, Terung dan Kol biasanya menggunakan ukuran (6x12), sedang pada pembibitan bunga biasanya menggunakan 12x12 dan untuk tanaman yang bibitnya "besar" maka digunakan ukuran yang jumlah lubangnya sedikit.


ALAT SEMAI SEMI MANUAL

Setelah tray semai diisi tanah yang sudah dipersiapan untuk tanah semai, maka dalam peletakan biji tanaman juga akan sangat menentukan: kekuatan tumbuh, daya tumbuh dan kualitas bibit. Usahakan biji ditaruh di tengah pot dengan kedalaman sekitar 2 cm.

Pada umunya titik tumbuh yang pertama adalah perakaran, maka biasanya biji akan "terdorong" keatas. Bila letak biji terlalu dangkal, maka tanmana akan kurang kuat cengkeramannya. Ini juga akan mempengaruhi kualitas bibit yang tumbuh.

(foto 2)

 

(foto 3)

MESIN SEMAI

Alat ini biasa dipakai di Industri Pembibitan, dimana bisa meletakan benih yang disemai dalam sekali taruh. Jumlah "lubang hisap" (tampak dibagian atas menghadap keatas) bisa disesuaikan dengan jumlah lubang tray semai.

Benih ditaruh dibagian bawah dari lubang hisap, setelah itu ada "penggaris" yang berjalan untuk meratakan biji tanaman dan akan langsung "menempel" dilubang hisap. Benih yang tidak terhisap akan "jatuh sendiri" kelubang penampungan biji.

Kemudian kotak lubang hisap yang tertempel benih akan segera membalik menghadap ke bawah dan langsung menempel ke tray semai, serta "sedotan" nya dilepas, maka benih akan otomatis masuk kelubang yang sudah disiapkan.

Di perusahaan Industri Bibit (sekedar informasi bisnis, bahwa industri semacam ini belum ada di Indonesia saat ini-th.2002) sebelum proses peletakan benih ini, ada satu mesin lagi untuk mengisi tanah kedalam tray semai. Setelah tanah diisi (mesin ini bisa sekalian memampatkan tanah dan membuat lubang semai di tiap lubang).
Setelah dari mesin semai ini, maka tray biasanya diangkat manusia dengancara manual dan diletakan di gerobak dorong untuk lanjutnay ditaruh di rumah kaca atau meja-meja semai.

 

BIBIT PERSEMAIAN

Setelah umur sekitar 25 hari, maka benih akan tumbuh menjadi bibit tanaman dengan 5-6 daun dan siap untuk ditanam.

Dengan menggunakan tary semai, maka keseragaman tumbuh dari bibit tanaman akan sangat baik. Tentu, keseragaman tumbuh ini juga sangat tergantung dari kualitas benih (daya kecambah, besar kecilnya benih dll.)

(foto 4)

tapi di negara maju, maka penjualan benih ini ada garansi dan petunjuk yang sangat jelas di kemasannya. Maaf maaf sajahal ini di Indonesia belum terlaksana dengan baikKeseragaman bibit akan sangat mempengaruhi keseragaman waktu dan ukuran buah panenan. Keseragaman ini akan mempengaruhi ukuran dan pengepakan dan juga penggunaan dari sayuran tersebut. Kol yang agak muda sangat cocok untuk "lalapan" atau isian dari rolling cake, yang sedang akan sesuai untukmasakan sabu-sabu dan yang agak tua baik untuk dibuat sayuran soup dll.

Sayang hal ini di Indonesia belum diperhatikan, dan pasar belum menyediakan kebutuha yang sebenarnya dari para konsumen.

(foto 5)

BIBIT TANAMAN

Dari hasil penyemaian di tray, maka akansangat mudah sekali untuk mengangkat seluruh media semai dan akar tanaman.
Tentu hal ini akan lain, bila kita menyemai di tanah, maka seringnya akar tanaman akan terputus sebagian. sayangnya yang putus itu justru merupakan titik tumbuh yang sangat diperlukan sekali dalam adaptasiawal dengan lingkungan tempat tanaman ini di tanam

PENTINGNYA PERAKARAN SEMAIAN

Foto disebelah kanan memperlihatkan betapa pentingnya titik tumbuh perakaran. Begitu bibit hasil dari tray semai dimasukan kedalam air, maka segra bereksi dan segera menjulurkan akar-akarnya.

Bila kita menggunakan media semai langsung di tanah, amak akar banyak yang terputus, sehingga agak lambat dalam penyesuain dengan tempat penanaman. tentu ini juga akan memperlambat waktu panen. Mungkin hal ini dianggap sepele khususnya di pertanian didaerah tropika atau di Indonesia. tapi di negara yang mempunyai 4 musim, akan sangat menentukan sekali dalam routasi tanaman.

(foto 6)

(foto 7)

PENANAMAN KOL

Di Jepang, penanam kol biasanya dilakukan dengan traktor tanam, sedang di Indonesia masih menggunakan cara manual dengan tangan.

Sebelum penanaman, maka tanah harus di bajak dan di buat alur-alur yang jelas. Karena di Jepang pada umumnya lahan penanam kol adalah landai datar (maka itu bisa menggunakan mekanisasi)

pengolahan tanahnya tidak menggunakan bedengan. tanah cukup dibajak merata dan di diberi pupuk dasar dan pupuk kandang. Sedang di Indonesia, pada umunya tanaman kol di tanam di daerah pegunungan dan konturnya berbukit bukit dimana agak sulit menerapkan mekanisasi. dan kepemilkan tanahnyapun umumnya tidak luas, serta waktu tanamnya tidak serentak, maka mekanisasi agak sulit diterapkan.

Traktor tanam ini juga berfungsi untuk : melubangi tanah dengan jarak yang bisa diatur (rotarynya) , mencomot bibit dari tray semai, kemudian menjatuhkan pas di tengah lubang dan selanjutnya menutup lubang tanam. jadi dalam sekali jalan semua pekerjaan penanaman sudah beres.

HASIL TANAM

Dari foto-8 disamping kanan terlihat bahwa dilahan juga disediakan "tempat jalan" traktor. Jalan traktor ini setelah tanam akan digunakan untuk juga untuk : Pemupukan susulan (biasanya 3 kali per 2 minggu setelah tanam) , jalan menyemprotan hama penyakit dan kadang juga digunakan untuk jalan menyiraman. Dan tentu juga digunakan untuk jalan gerobak panen dan truk box masuk ke lahan.

Walaupun lahan tersebut menyediakan jalan untuk traktor, tapi sekali lagi dalam effisiensi lahan lebih baik dibanding di Indonesia. Di Jepang populasi tanam per hektar bisa 40 - 45 ribu, sedang di Indonesia 23 - 27 ribu tanaman. Hal ini setelah saya amati, ternyata jarak tanam (jatam) di Jepang sangat tepat, maka lahan benar2 bisa dimanfaatkan dengan baik.

(foto 8)

(foto 9)

JARAK TANAM YANG TEPAT

Jarak tanam yang teratur dan rapi akan sangat membantu dalam efisiensi lahan serta pertubuhan tanaman yang seragam. Tanaman yang seragam akan memungkinkan besar dan kualitas buah yang seragam. Buah yang seragam akan membuat panenan tepat waktudan seretak. Dan panenan yang serentak akan menghemat ongkos perawatan dan tenaga kerja. jadi jarak tanam itu termasuk pegang peranan penting dalam income.

Mungkin di pelajaran Agronomi tentang masalah jarak tanam ini hanyalah sekedar pengetahuan belaka, maka dengan keterangan ini akan sangat perlu untuk memahami fungsi jarak tanam tersebut. Hal ini juga harus diterapkan di tanaman jenis lain seperti tanaman buah : Tomat, Cabe, Terung, Melon dll. dan juga di tanaman akar : Wortel, Lobak dan lain lainnya

 

PERTUMBUHAN TANAMAN

Setelah tanaman umur sekitar satu bulan (foto 10 dan 11) maka tanah disekitar barisan/larikan dirapikan dengan traktor. Perapian ini berfungsi untuk menutup pupuk susulan dan juga menutup perakaran yang yang kadang karena erosi hujan muncul ke permukaan.

Tanah mulai nampak seperti dibuat bedengan atau guludan baru. Ini perlu supaya letak tanaman "lebih tinggi" dari lahan antar barisnya. sehingga air hujan bisa teratur mengalir di antara bedengan dan tidak akan merusak guludan.

Dari segi tanaman, umur satu bulan maka titik calon "telor kol" atau buah mulai ada. Sekedar informasi bahwa tanaman kol ini dipandang dari segi pembuatan telornya, ada 3 karakter. Yaitu ada jenis yang membuat telor dari dalam terus membesar keluar, ada yang sebaliknya yaitu membuat "rangka luar" dulu baru nanti semakin padat kedalam, dan yang ketiga adalah seimbang antara membuat rangka dan pemadatan bersamaan.

dari karakter ini, sebetulnya kita bisa mengamati jenis kol mana yang nanti akan membuat telor padat sekali atau jenis yang membuat telor tidak padat.

Foto-12, memperlihatkan tanaman berumur sekitar 60-70 hari. Berat buah sudah sekitar 1,2 Kg dan ini sudah cocok untuk dipasarkan sebagai "buah muda" yang sudah masak.

(foto 10)

(foto 11)

(foto 12)

(foto 13)

Umumnya umur panen tanaman kol itu sekitar 75 - 85 hari setelah tanam (kondisi Indonesia) tapi dinegara sub-tropic umumnya akan lebih lama. Bahkan ada kol yang berumur sampai 180 hari alias setengah tahun baru bisa dipanen. Dan ada juga yang lebih lama lagi yaitu jenis kol savoy yang biasa ditanam diwaktu musim salju, dimana tanaman kol ini masih bisa hidup dan berkembang baik walau tertimbun salju untuk beberapa waktu.....edan tenan. Kalau ada kesempatan akan saya tampilkan macam-macamnya ataupun sayur-sayuran yang lainnya.

SAATNYA PANEN TIBA

saat yang paling ditungu petani adalah saat panen tiba (akan lebih gembira lagi bila harganya bagus). Dengan melihat tanaman yang tumbuh sehat dan buah yang merata, maka wajah wajah ceria petani tiba satnya

(foto 14)


(foto 15)

Berbeda dengan saat tanam yang bisa menggunakan mekanisasi, untuk pemanenan kol ini "terpaksa" dengan cara manual, yaitu dengan dipotong satu persatu dengan tangan dan dibersihkan daun luarnya.
Buah hasil panenan dijajar di bedengan dan setelah itu dimasukan kedalam dos karton. dalam memasukan ke karton ini sekalian diadakan seleksi buah terutama dalam ukuran berat dan volumenya.
Karena karton yang digunakan sudah tercantum :berat per buah, (kadang dicantumkan size-nya kadang tidak) , dalam satu box isinya berapa, dan diproduksi dari daerah mana serta kapan dipanennya dan kapan kadaluwarsanya !!!!.....edan tenan. Anda bayangka kalau beli sayuran di Indoensia, walau di supermarket-pun tidak akan jelas dari daerah mana dan kapan kadaluwarsanya. Pada daerah produksi kol tertentu bahkan "berani" mencantumkan : Nama petaninya, umur panen dan baiknya untuk masakan apa........edan tenan.

packaging untuk kol ini tidak boleh di tumpuk buah dalam satu karton box, jadi hanya satu lapis berderet dan rata ada 8 buah per box-nya.

 

(foto 16)

(foto 17)

 

PEMASARAN

Pemasaran sayuran di Jepang agak berbeda sedikit (apa banyak ?) dengan di Indonesia. Petani biasanya hanya menyetor ke semacam KUD (disebut Nokyo) dan nanti KUD yang memasarkan. Pemasaran ini biasanya melalaui pasar lelang yang dilakukan pagi pagi sekali. Sebetulnya akau ada foto2 dan video-nya lelang sayuran ini yang diambil waktu musim dingin. Lelang ini pesertanya adalah para bandar sayuran (bukan konsumen rumah tangga) karena pembeliannya dalam jumlah sangat besar sekali.

Di sore sebelum hari lelang, maka para bandar ini bisa melihat-lihat dulu barang yang akan di lelang. Tujuannya supaya para bandar ini bisa memperkirakan harga penawarannya.
Berbeda dengan di Indonesia, pada umunya bandar ini membeli secara borongan di kebun (Kawa tengah dan Timur), atau dengan cara ditimbang beratnya (Jawa Barat) atau dengan membeli dikarung (Sumatra Barat).

Para Bandar di Jepang itu mempunyai gudang-gudang sewa disekitar pasar lelang (foto 18), gunanya untuk menyimpan hasil pembelian dari pelelangan. Setelah itu didistribusikan ke agen-agen penyalur atau super market dan lain-lain.

(foto 18)

design and manage by Gun Soetopo , copyright 2002